Ibnuhazm azh zhahiri mengatakan: Disaat menilai orang lain tentunya kita hanya bisa menilai dari lahiriyahnya saja. MUI nilai kutipan Ahok tentang surah Al Maidah hina Jadi, aktivitas menilai orang (taqwim) bukanlah hal yang tabu dalam islam. Menilai orang lain menurut islam. Sebab menilai hati seseorang itu tidak ada kemampuan manusia.
Sungguh mengherankan karena sebagian besar orang yang hidup di zaman sekarang menilai orang lain berdasarkan uang. Orang yang hanya ingin berteman dengan yang terlihat kaya saja. Padahal orang seperti itu tidak tulus dan lingkungan seperti ini semakin banyak. penting untuk mengetahui bahwa Islam mengajarkan menilai orang berdasarkan taqwa. Buat apa punya harta berlimpah tetapi tidak bertakwa. Uang tidak akan dinilai oleh Allah SWT, tetapi yang dinilai adalah taqwa seorang hamba. Ada beberapa poin yang harus dipahami bagi orang yang hanya mau berteman dengan orang kaya saja. Ini juga penting bagi orang yang diberi kesempatan harta melimpah. Kesempatan banyak bersedekah Seseorang yang memiliki kesempatan berkelimpahan harta, penting untuk bersedekah. Semakin banyak harganya maka sedekahnya juga harus semakin kencang. Kita harus memikirkan orang-orang yang tergolong tidak mampu berada di sekitar. Memiliki kelimpahan harta jangan membuat seseorang menjadi pelit. Lebih lagi tidak ada yang tahu kapan kita bisa terus bersedekah karena tutup usia merupakan bahasa yang hanya diketahui oleh Allah. Jadikan kekayaan sebagai cara untuk mencapai surga Allah. Orang yang kikir ketika di akhirat bisa masuk neraka dan dibakar dengan harta yang ditimbunnya. - Jangan nilai dari uang, tetapi taqwa. Foto Unsplash Membuat orang enggan melakukan kejahatan terhadap orang bersedekah Bersedekah merupakan salah satu cara cara untuk menunjukkan ketakwaan kepada Allah. Pahami bahwa segala sesuatu yang kita miliki merupakan milik Allah yang dititipkan. Alangkah baiknya selalu banyak bersedekah selama masih diberi kesempatan hidup. Bersedekah bisa membantu seseorang yang kesulitan secara perekonomian terlepas dari niatan mencuri atau berbuat jahat lainnya. Tidak perlu banyak banyak memberikan sedekah, kita bisa melakukan seikhlasnya. Bagaimanapun kemiskinan sangat dekat dengan kriminalitas, sehingga sudah menjadi tugas seorang yang berkelimpahan untuk membantu orang yang kurang mampu. Jangan menilai orang lain dengan uang, Orang kaya terakhir masuk surga Pada waktu dihisab segala amalan manusia, orang yang tidak mampu dan tetap berbuat baik dalam hidup serta beriman akan masuk surga lebih mudah. Mereka tidak memiliki tanggungan yang belum terbayarkan. Tanggungan yang dimaksud berupa hak orang lain. Berbeda halnya dengan orang kaya yang akan dimasukkan surga lebih lambat karena ada banyak pertanggungjawaban. Orang-orang yang kaya akan ditanya apakah memiliki tanggungan yang belum terbayar. Pelajaran bagi orang yang kaya adalah jangan menunda memberikan hak orang lain jika ingin cepat masuk surga. Jadi kalau ada orang yang menyindir kita berdasarkan kekayaan dan meremehkan, abaikan saja. Tidak perlu dimasukkan dalam hati, toh pahalanya malah mengalir ke kita. Untuk ulasan hal inspiratif lainnya, silahkan follow Muslima TCT Terkini
Bahkandalam konteks evaluasi diri ini Umar Ibn Khattab pernah berkata "Evaluasi dirimu sebelum Engkau dievaluasi orang lain". Hal ini mutlak diperlukan, sebab Allah senantiasa mengawasi dan mengevaluasi tindakan manusia (QS. jujur, mengatakan sesuatu sesuai dengan apa adanya. Orang yang menilai demikian dalam agama Islam dikenal dengan
Sikap membanding-bandingkan merupakan kebiasaan yang kerap kali dilakukan seseorang, entah membandingkan diri dengan orang lain dalam hal jabatan, karier, kekayaan, dan sebagainya. Bisa juga membandingkan orang lain dengan pihak lain seperti membanding-bandingkan prestasi anak sendiri dengan teman sekelasnya. Lantas bagaimana pandangan Islam dengan sikap demikian? Membandingkan diri dengan orang lain atau orang lain dengan pihak lain, bisa tidak boleh dan bisa juga boleh, bahkan dianjurkan. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika sikap membandingkan ini membuat kita kurang bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Dalam Al-Qur’an disebutkan, وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا Artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS An-Nisa [3] 32 Ayat di atas berpesan kepada kita agar jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain sehingga muncul sifat iri atau hasud. Misalnya, membandingkan jatah rezeki yang telah Allah bagikan kepada hamba-Nya. Sebab, jika sudah muncul sifat iri akan membuat seseorang lupa diri sehingga dikhawatirkan akan menghalalkan segala cara agar bisa mengungguli orang lain. Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [1981], juz X, halaman 82. Terkait bahaya sifat hasud, ada sejumlah ayat Al-Qur’an, hadits, dan pesan para sahabat Nabi atsar yang sudah menyinggungnya. Dalam satu hadits diriwayatkan وعنْ أنَسٍ رضي اللَّه عنهُ قال قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لا تَقَاطَعُوا، ولا تَدابروا، ولا تباغضُوا، ولا تحاسدُوا، وكُونُوا عِبادَ اللَّهِ إخْواناً. ولا يحِلُّ لمُسْلِمٍ أنْ يهْجُرَ أخَاهُ فَوقَ ثَلاثٍ. متفقٌ عليه Artinya, “Dari Anas ra, berkata, Rasulullah saw bersabda, Janganlah engkau semua saling memutuskan hubungan persahabatan atau kekeluargaan, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci serta jangan pula saling mendengki. Jadilah engkau semua, hai hamba-hamba Allah, sebagai saudara-saudara. Tidak boleh seorang Muslim meninggalkan tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari.’” Muttafaq alaih Ibnu Mas’ud pernah menyampaikan bahwa orang yang memiliki sifat hasud bagaikan orang yang memusuhi nikmat Allah. Sebab, ia tidak senang ketika ada orang lain mendapat nikmat yang telah Allah anugerahkan. Sebaliknya, ia akan bertepuk tangan jika mihat orang yang dihasudinya hancur. Kendati sikap membanding-bandingkan tidak diperbolehkan, ada juga yang diperbolehkan, yaitu ketika dilakukan dengan tujuan supaya mendapat motivasi dari orang lain. Misalnya, membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki semangat belajar lebih giat atau kualitas ibadah tinggi sehingga kita juga ikut terpacu untuk meningkatkan kualitas diri. Sebab itu Rasulullah saw menganjurkan kita agar sering bergaul dengan orang saleh agar kita banyak berintrospeksi diri dan terus mendapat suntikan semangat beramal baik. Nabi saw bersabda إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ؛ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً. متفق عليه Artinya, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi, jika ia tidak menghadiahkan padamu minyak wangi, maka engkau akan beli darinya, atau paling tidak engkau akan ketularan harumnya. Sedangkan tukang besi, jika bajumu tidak terbakar akibat terkena percikan api yang ada di tungku besinya, setidak-tidaknya engkau akan keluar dari tempat kerjanya dalam keadaan bau asap.” Muttafaq Alaih Berbeda dalam urusan akhirat, jika membandingkan diri dengan orang lain dalam urusan duniawi seperti karier, kekayaan, prestasi, dan sebagainya, kita dianjurkan untuk melihat orang yang levelnya berada di bawah nasib kita. Dengan begitu harapannya akan membuat kita tetap bisa bersyukur karena Allah swt masih memberi yang lebih baik kepada diri kita dibanding orang lain. Dalam satu hadits diriwayatkan عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ Artinya, “Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, Lihatlah siapa yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, sebab yang demikian lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah atas kalian.’” HR al-Bukhari. Melaui hadits ini, Imam Ibnu Hajar menyampaikan, jika dalam urusan ibadah hendaknya seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki kualitas lebih baik darinya sehingga menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah dirinya. Berbeda dalam urusan duniawi, hendaknya ia membandingkan dirinya dengan orang lain yang nasibnya berada di bawahnya sehingga ia bisa tetap bersyukur telah diberi kelebihan. Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz XI, halaman 276. Simpulannya, jika membandingkan diri dalam urusan duniawi harus dicermati terlebih dulu. Jika sikap tersebut membuat kita semangat untuk meningkatkan kualitas diri maka boleh, bahkan dianjurkan. Seperti membandingkan diri dengan semangat belajar orang lain. Sebaliknya, jika hal demikian justru membuat kita kurang bersyukur atau timbul hasud, maka tidak boleh. Seperti membandingkan diri dengan orang lain terkait besaran gaji. Sementara dalam hal membandingkan diri dalam urusan akhirat maka mutlak diperbolehkan karena bisa membuat semangat ibadah kita terpacu. Seperti membandingkan diri dengan orang lain yang lebih rajin menjalankan shalat berjamaah. Wallahu a’lam. Ustadz Muhamad Abror, Penulis Keislaman NU Online, Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Ma'had Aly Saidusshiddiqiyah Jakarta
rqinI. t3tii1d0is.pages.dev/453t3tii1d0is.pages.dev/468t3tii1d0is.pages.dev/220t3tii1d0is.pages.dev/503t3tii1d0is.pages.dev/317t3tii1d0is.pages.dev/483t3tii1d0is.pages.dev/45t3tii1d0is.pages.dev/312
menilai orang lain menurut islam